Aceh - Tiga orang Tenaga kesehatan RS Mutiara Sukma yang tergabung dalam Tim Medis NTB telah sampai di Aceh, Senin (22/12). Tim medis ini melanjutkan rangkaian kegiatan kemanusiaan yang telah berjalan dengan fokus pada upaya pemulihan dan pelayanan kesehatan masyarakat terdampak bencana.
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, penyakit terbanyak yang ditemukan pada masyarakat pengungsi meliputi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, diare akut, serta cacingan. Kondisi ini menjadi dasar penentuan prioritas layanan kesehatan yang diberikan oleh tim.
Adapun prioritas kegiatan Tim NTB meliputi layanan pengobatan bagi masyarakat terdampak, kegiatan kesehatan lingkungan (kesling) khususnya pengelolaan sampah, serta upaya pencegahan dan penanggulangan potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti difteri dan diare. Selain itu, tim juga melaksanakan kegiatan trauma healing guna mendukung pemulihan psikososial masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Rencana operasional Tim NTB selanjutnya adalah memusatkan kegiatan di wilayah Aceh Utara. Saat ini, wilayah tersebut masih dalam tahap pemulihan dan membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang cukup besar. Hal ini berbeda dengan wilayah Aceh Tamiang yang telah didukung oleh banyak relawan, tercatat sebanyak 129 NGO telah terlibat aktif di lokasi tersebut.
Pada pagi hari ini, Tim Medis NTB dijadwalkan menuju Humanitarian Assistance Operation Center (HAOC) untuk menyampaikan laporan kegiatan, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Aceh Utara dengan estimasi waktu tempuh sekitar 15 jam, menyesuaikan dengan kondisi lapangan saat ini.
Pengisian logistik dan kebutuhan tim direncanakan dilakukan di Lhokseumawe dengan estimasi waktu 2–3 jam. Sebagai alternatif teknis untuk efisiensi, logistik Tim NTB direncanakan dapat bergabung dengan tim lapangan yang sudah ada, termasuk penggunaan fasilitas tenda dan dapur umum (lumsum).
Di Kabupaten Aceh Utara terdapat lima puskesmas yang saat ini belum aktif dalam pelayanan. Oleh karena itu, Tim NTB akan memfokuskan kegiatan layanan pada satu puskesmas yang ditetapkan sebagai pusat layanan kesehatan, guna memaksimalkan dampak pelayanan.